Fatner


Pengikut

Wajah Rupawan Cenderung Egois

Mau pasangan yang tampan dan cantik, atau yang berwajah biasa? Bukan bermaksud stereotip. Namun, sebuah penelitian bersama antara Barcelona University dan Universidad Autonoma de Madrid, Spanyol, mengatakan, ada kecenderungan orang yang rupawan lebih suka berpikir tentang dirinya sendiri alias egois. Rupawan ini digambarkan dengan sosok tampan atau cantik nan menarik, dengan wajah simetris.
Menurut Sanchez-Pages dan Turiegano, sang peneliti, wajah simetris sering diasosiasikan dengan kondisi yang menarik dan lebih sehat. Anggapan inilah yang membuat pemiliknya menjadi lebih mandiri dan merasa kurang memerlukan orang lain. “Melalui seleksi alam selama ribuan tahun, karakteristik ini pun masih bertahan hingga saat ini,” tulis mereka.
Dalam penelitian ini dipakai model perilaku “prisoner’s dilemma”. Pada model ini, dua relawan diminta berperan sebagai “merpati” dan lainnya sebagai “elang”. Jika kebagian peran “merpati” maka harus berperilaku mulia. Dan, kalau dapat “elang”, berkesempatan berlaku egois.
Studi tersebut selanjutnya mengatakan, ada sikap tidak ingin bekerja sama dan tidak mengharap orang lain melakukan hal yang sama dari pemilik wajah simetris. Namun, kecenderungan ini tidak lantas bisa dijadikan patokan tingkah laku pada semua orang yang memiliki wajah simetris.

source:
Minggu, Oktober 02, 2011 | 0 komentar |


Arti Bintik dan Garis Putih di Kuku

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Kadang seseorang mengartikan bintik atau garis putih di kuku sebagai tanda ada orang yang naksir atau justru benci dengan dirinya. Sebenarnya apa arti dari tanda putih yang ada di kuku tangan maupun kaki?

Tanda putih yang muncul di kuku bisa membuat seseorang bertanya-tanya apa penyebabnya, karena sebagian besar orang tidak menyadari sebabnya hingga tiba-tiba muncul tanda putih di kuku.

Salah satu penyebab paling umum dari munculnya bintik-bintik putih di kuku tangan atau kaki adalah suatu kondisi yang disebut dengan leukonychia, seperti dikutip dari Health.Howstuffworks, Rabu (28/9/2011).

Meskipun namanya terdengar cukup serius, tapi kondisi ini umumnya tidak berbahaya. Ada juga orang yang berpikir hal ini karena adanya kekurangan nutrisi tertentu seperti kalsium atau zinc, walaupun tidak selamanya benar.

Pada kenyataannya, kondisi ini paling sering terjadi akibat trauma ringan atau sedang pada kuku. Pertumbuhan kuku cenderung sangat lambat, karenanya orang mungkin tidak menyadari cedera yang terjadi pada minggu sebelumnya hingga akhirnya muncul tanda atau bintik putih di kuku.

Umumnya kondisi ini tidak memerlukan pengobatan apapun dan akan hilang jika seseorang memotong kuku saat ia sudah bertambah panjang. Tanda putih ini tidak akan kembali lagi kecuali terjadi trauma kembali.

Tanda putih ini bisa terjadi di satu atau beberapa kuku sekaligus. Kemungkinan lain dari penyebab kondisi ini adalah tanda dari adanya infeksi ringan, alergi atau efek samping dari beberapa obat tertentu.

Jika hampir semua kuku menunjukkan ada titik atau garis putih, maka kemungkinan leukonychia ini berhubungan dengan kondisi lain yang lebih serius seperti anemia (kekurangan sel darah merah). Jika memang mengkhawatirkan tak ada salahnya berkonsultasi dengan dokter.

detik.com
Rabu, September 28, 2011 | 0 komentar |


Misteri Kursi Bernomor 13 di Pesawat Batavia Air

   
Syahnan Rangkuti/KOMPAS Misteri Kursi Bernomor 13 di Pesawat Batavia Air

PEKANBARU,- Tahukah Anda, konon tidak ada kursi penumpang di pesawat terbang yang bernomor 13 di dunia ini? Meski banyak yang tidak percaya, namun tahyul di jagad raya ini mempercayai angka 13, dikaitkan dengan kejadian sial atau mengerikan.
Namun di Indonesia, pesawat Batavia Air dengan nomor penerbangan YG - 561 dari Jakarta tujuan Pekanbaru, hari Minggu (25/9/2011) petang, memberikan tiket penumpang bernomor  13A dan 13B kepada Nyonya Mardiana dan suaminya. Mulanya, Mardiana merasa heran, sebab setelah puluhan kali naik pesawat, baru kali ini dia mendapat kursi bernomor 13. Namun dia mendiamkan saja.  
Keanehan mulai terjadi saat Mardiana dan suaminya naik ke pesawat. Ternyata kursi bernomor 13 memang tidak ada. Setelah kursi nomor 12, yang ada di deretan selanjutnya adalah kursi bernomor 14. Ketika disampaikan perihal nomor tiket itu kepada pramugari yang bernama Ira Maei, dia langsung terheran-heran.
"Tidak ada nomor 13 di pesawat ini, ada kesalahan, namun ibu dan bapak dapat duduk di kursi nomor 14A dan 14B  ini saja dahulu," kata Ira menenangkan.
Tidak lama kemudian, muncul seorang pria tinggi besar yang menyebutkan dia memiliki tiket bernomor 14 A dan seorang penumpang lain yang belakangan diketahui bernama Rizal, pegawai Kantor Bea dan Cukai Riau yang memegang tiket bernomor 14B.

Masalah mulai muncul, dan pramugari Hindri Astutik dan Juni Cahyati mulai terlihat kasak kusuk memanggil petugas darat untuk membantu menyelesaikan persoalan. Setelah beberapa lama, seluruh penumpang telah naik ke pesawat. Ternyata, ada tersisa dua kursi yang belum diduduki penumpang. Akhirnya pramugari mengarahkan Rizal untuk duduk di kursi bernomor 2B dan pria bertubuh tinggi besar di kursi 11E yang kosong. Pesawat  berkapasitas 168 orang itu penuh total. Tidak ada lagi kursi tersisa.
Namun akibat insiden kursi bernomor 13A dan 13B, jadwal pesawat yang semestinya tebang pukul 16.50, pintu pesawat baru dapat ditutup pada pukul 17.10 dan terbang pukul 17.30. Tidak ada kejadian apapun sepanjang perjalanan dari Jakarta ke Pekanbaru, cuaca cukup bagus.

Hanya saja sesaat sebelum mendarat, tubuh pesawat bergoyang, oleng ke kiri dan ke kanan, tidak stabil, sehingga membuat penumpang cukup cemas. Untungnya, Kapten Pilot Hendra Sutrisno mampu mendaratkan pesawat dengan baik.  Ketika mendarat, bahkan ada penumpang yang bertepuk tangan.
Sebelum turun dari pesawat, Mardiana dan suaminya masih penasaran, mengapa mereka diberi nomor kursi 13 A dan 13B. Pramugari Juni Cahyati mengatakan, masalah itu disebabkan petugas darat Batavia, mungkin tidak mengecek bahwa pesawat Batavia yang satu ini, tidak memiliki kursi bernomor 13.
"Memangnya ada pesawat yang bernomor kursi 13?" tanya suami Ny Mardiana. Juni mengungkapkan, ada satu pesawat Batavia di Indonesia, yang memiliki nomor kursi 13. Kalau pernyataan Juni diasumsikan benar, mengapa hanya Ny Mardiana dan suaminya yang mendapat nomor kursi 13?
Bukankah kalau penumpang penuh, semestinya, ada empat penumpang lain yang memegang tiket bernomor 13C, 13D, 13E dan 13F? Belum ada jawaban misteri kursi bernomor 13A dan 13B itu, kecuali pihak Batavia mau jujur membukanya kepada publik.

Atau, jangan-jangan petugas darat Batavia Air memang tidak profesional.  Contoh ketidakprofesional lainnya, sebelum masuk ke pesawat, penumpang Batavia yang berada di ruang tunggu C7 tujuan Pekanbaru harus masuk ke pesawat melewati pintu C5, sementara pada saat bersamaan, penumpang yang berada di ruang tunggu C5 tujuan Batam dipindahkan ke jalur C7.
Koridor bandara akhirnya kacau penuh sesak, penumpang dari dua arah berlawanan bersinggungan karena hendak bergegas naik ke pesawat.

kompas.com
Rabu, September 28, 2011 | 0 komentar |


Hukum dalam Rok Mini

 
Hukum dalam Rok Mini
Tribunnews.com/ Herudin
TOLAK PERNYATAAN FOKE - Sejumlah perempuan yang menamakan diri Kelompok Perempuan Menolak Perkosaan berunjukrasa di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (18/9/2011) sore. Mereka juga menolak pernyataan Gubernur Fauzi Bowo yang menyebut pakaian mini sebagai penyebab terjadinya tindak perkosaan terhadap perempuan.


Pernyataan Pejabat Negara akhir-akhir ini mengenai kasus perkosaan, memang menimbulkan ironi tersendiri. Jika seorang pemimpin sekelas Gubernur Ibukota hanya melontarkan ide konyol mengenai pelarangan perempuan menggunakan rok mini dalam angkutan umum.
Lazimnya pula kita tak akan heran bila seorang Gubernur lain juga tak kalah bodohnya melemparkan ide mengenai kekerasan terhadap perempuan. khususnya perkosaan di wilayahnya sendiri. Pernyataan yang mereka lontarkan, membuat kita gerah.

Pembunuhan dan perkosaan yang dilakukan didalam angkutan umum merupakan sebuah bentuk tindakan kriminal yang melanggar hukum dan HAM seseorang. Bukan sebuah bentuk politik pencitraan dengan ide banyolan kosong belaka.
Sungguh ironi jika pejabat negara sekelas Gubernur ibukota jelas-jelas mempersalahkan pakaian seorang perempuan dalam kasus ini. Disertai pula himbauan agar perempuan tidak menggunakan rok mini dalam angkutan umum. Sungguh tragis, ketika seorang pejabat membuat solusi yang sangat bersifat sangat primitif dan taktis sekali. Sedangkan, kejahatan seksual kian merajalela dimana-mana.
Sepertinya pejabat kita jarang sekali belajar dari pengalaman. Kasus Ruhyati, pencabulan terhadap anak dalam angkutan umum serta sederet kasus-kasus lain yang selalu saja meminta tumbal untuk mendapatkan perhatian dari pemerintah. Hal ini tentu saja membuat kita geram dengan tindak tanduk kebijakan yang selalu saja tidak pernah berpihak pada masyarakat. Apalagi untuk kaum perempuan dan anak. Ada beberapa hal yang menjadi kredit poin dalam kasus ini :

Pemerintah wajib melindungi Warga Negaranya. Tanpa terkecuali. Pemerintah seharusnya tidak mengeluarkan statment yang menyalahkan pihak korban, dan membuat masyarakat resah dengan memberikan solusi yang sangat dangkal
Perkosaan, sebagai kejahatan seksual bukanlah sebuah bentuk penyalahan atas tubuh perempuan dan apa yang digunakan oleh perempuan atas tubuhnya. Tapi kepada mindset patriarkis yang mengakar.
Tidak ada satupun perempuan di dunia ini yang pantas diperkosa. Apapun itu.Pemerintah wajib menyiapkan transportasi yang aman dan ramah terhadap perempuan dan kaum berkebutuhan khusus. Membenahi sistem transportasi dan memberikan kelayakan manusiawi bagi pengguna angkutan umum.
Pemerintah wajib menyelesaikan kasus perkosaan, untuk keadilan sosial bagi seluruh masyarakatnya.
Jika pemerintah dan pejabat negara berpangku tangan saja, pertanyaan ini kedepan akan menjadi momok yang sangat menakutkan bagi kita. Kepada siapa lagikah kita mampu berlindung? Jika hukum dan negara tidak mampu menjadi payung lagi.

source:www.tribunnews.com
Rabu, September 28, 2011 | 0 komentar |


Upaya Kristenisasi Di Mushalla

 http://www.sabili.co.id/images/resized/images/stories/fruit/bimbingantauhid25-setosabili_200_200.jpg

Seperti biasanya, menjelang Dzuhur, Sumaryono, aktivis Muhammadiyah di Kelurahan Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur, pergi ke mushalla untuk shalat berjamaah. Yono datang lebih awal karena bertugas mengumandangkan adzan tepat waktu di mushalla yang hanya 500 meter dari rumahnya. Setiba di mushalla yang lokasinya di belakang Stasiun Kereta Api Pondok Kopi ini, Yono melihat buku saku bersampul kuning tergeletak di bawah pintu.

Awalnya, ia mengira buku berjudul “Jalan Tauhid Lurus ke Surga” itu adalah bacaan islami, karena banyak mengutip ayat-ayat al-Qur'an. Tapi setelah meneliti lebih seksama, ternyata isinya menyudutkan Islam, Allah dan Nabi Muhammad saw.

“Ini pasti buku Kristenisasi,” batin Yono. Maka, tanpa pikir panjang, ia mencari orang yang memasukkan buku ini ke mushalla. Di luar hanya ada anak-anak kecil yang memegang selebaran tentang kiamat.

Selebaran ini juga misterius, karena tidak mencantumkan nama dan alamat penerbit. Isinya juga banyak mengutip al-Qur'an dan hadits, tapi menyanjung Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat. Maka, Yono menyimpulkan, ”Ini juga Kristenisasi.”

Menurut anak-anak yang sedang main di halaman mushalla itu, buku dan selebaran ditaruh orang yang tak mereka kenal. Anehnya, orang itu memakai baju koko dan peci.

Buku yang berjudul “Jalan Tauhid Lurus ke Surga” ini berisi ajakan untuk beribadah menyembah Yesus Kristus. Ini terlihat pada bagian yang mengajak pembaca untuk menyeleksi para nabi, dimulai dari Ibrahim, Musa, Yesus, sampai Muhammad saw.

Ia menulis, “Sebelum mengikuti satu tokoh, seharusnya dikenali lebih dulu watak tokoh itu, apalagi jika hendak menyembah tokoh tersebut.” (hlm 15).

Ajakan yang sarat kemusyrikan ini bertolak belakang dengan spirit judul yang menawarkan jalan tauhid yakni, beribadah hanya kepada Allah SWT. Memilih nabi manapun sebagai tokoh untuk dijadikan sebagai Tuhan adalah langkah yang salah dalam beragama. Sebab para nabi tak satupun yang memproklamirkan diri sebagai Tuhan. Semua nabi mengajak manusia beribadah dan menyembah pada satu-satunya Tuhan yang haq yaitu Allah SWT.

Nabi Ibrahim mengajak umatnya menyembah Allah yang Maha Menciptakan, Maha Memberi hidayah, Maha Memberi rezeki, Maha mengampuni, Maha menyembuhkan, menghidupkan dan mematikan  (QS az-Zukhruf: 27-28, asy-Syu’ara: 78-82). Nabi Musa pun bertauhid pada Allah yang menciptakan bumi, langit dan seluruh isinya (QS asy-Syu’ara: 24, al-A’raf: 121-122). Bandingkan dengan Alkitab (Bibel) tentang ajaran tauhid Nabi Musa (Ulangan 4:35, 4:39, 6:4, dan 32:39).

Nabi Isa (Yesus) juga mengajak umatnya untuk bertauhid menyembah Allah tanpa mempersekutukan dengan sesuatu apapun. Dengan keras beliau menyatakan kafir bagi orang yang menjadikan dirinya sebagai Tuhan. Semua orang yang mempersekutukan Allah itu haram masuk surga dan akan dimasukkan di neraka (QS al- Ma’idah: 72-73).

Jika berpikir objektif, semestinya penulis buku pemurtadan ini bisa menangkap ajaran tauhid Yesus dalam Bibel. Secara tegas Yesus mengajarkan kepada muridnya bahwa hukum yang paling utama adalah mengesakan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang benar, dan mengakui Yesus bukan sebagai Tuhan tapi utusan Tuhan (Markus 12: 29, Yohanes 17: 3).

Muhammad saw sebagai nabi pamungkas juga mengajarkan tauhid (QS Muhammad 19, as-Syuuraa: 11, al-An’aam: 163, al-Mukminun: 91, an-Nahl: 51, dan lainnya). Jadi, betapa pun hebatnya sang tokoh, tapi ia tidak boleh dijadikan sebagai Tuhan, karena sampai kapan pun tokoh itu adalah makhluk (ciptaan) Tuhan. Maka kekaguman pada seorang tokoh hendaklah dialamatkan pada Tuhan yang memberikan kehebatan (mukjizat) pada tokoh itu.

Mungkin saja, penginjil penulis brosur ini masih rabun imannya, sehingga tidak bisa membedakan antara manusia dengan Allah. Seyogianya ia menelaah buku “Perbedaan Allah dan Tuhan Rekayasa dalam Tinjauan Al-Qur'an.” Dalam buku ini, penulisnya, Muhammad Thalib, menjelaskan 20 karakteristik yang membedakan Allah SWT dengan Tuhan rekayasa atau ciptaan manusia.

Tapi penulis buku kristenisasi ini cukup licik dalam mengelabui pembaca. Agar tidak dituding Kristenisasi, ia tidak mau mengaku sebagai Kristen, melainkan seorang “Ahlul Injil” (penganut Injil). Injil yang dimaksud juga bukan kitab Injil, karena Yesus tidak membawa kitab dan tidak menerima wahyu (firman) Tuhan, karena Yesus itu adalah wujud dari firman Tuhan.

Menurutnya, Injil hanyalah berita suka cita yang disampaikan oleh Yesus (hlm 18).

Tipuan ini sebenarnya menipu diri sendiri, karena pada beberapa bagian ia tidak menutupi iman kekristenannya. Misalnya, ketika mengajak pembaca untuk mengakui doktrin Kristen tentang inkarnasi Tuhan menjadi Yesus:

“Janji setia Ahlul Injil berbunyi: ‘Saya menyembah Tuhan yang menciptakan diriku yakni, Pemilik surga.... yang tampil dalam wujud manusia Yesus Kristus. Amin” (hlm 20).

Menyatakan diri sebagai Ahlul Injil yang berbeda dengan Kristen karena berpedoman pada Injil Yesus, bukan Injil dalam Bibel, adalah kebohongan yang tidak lucu. Karena pada halaman terakhir, ia menyebutkan 7 sikap Ahlul Injil yang semua didasarkan pada Injil Matius, Markus, dan Yohanes. Lantas, apa bedanya Ahlul Injil dengan Kristen? Sami mawon, dong!

Keyakinan bahwa Yesus tidak menerima wahyu (firman) dari Tuhan, semakin membuktikan bahwa misionaris penulis buku saku ini hanyalah teolog abangan yang tidak memahami kitab sucinya sendiri. Apalagi terhadap kitab suci agama lain. Pasalnya, pernyataan misionaris ini dibantah oleh Yesus dalam Bibel: “Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepadaku telah kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya,” (Yohanes 17:8).

Jika Yesus diyakini tidak pernah menerima firman Tuhan karena Yesus adalah wujud inkarnasi firman Tuhan, apakah sabda Yesus dalam Injil Yohanes tersebut harus digadaikan?
Aneh memang.

source:sabili.co.id
Senin, September 26, 2011 | 0 komentar |