Fatner


Pengikut

Foto Lembah Anai Tempo Dulu

Suatu ketika saya sedang menikmati alunan lagu minang, entah kenapa telinga ini sedang rindu dengan nada-nada yang memang saya akrab sejak kecil, terutama tarikan suara Elly Kasim. Salah satu lagu favorit saya adalah Malereang Tabiang.
Malereang lah tabiang malereang, mak oi
Malereang sampai nan ka pandakian
Den sangko langik nan lah teleang, mak oi
Kironyo awan nan manggajuju
Lagu tersebut bercerita tentang perjalanan menelusuri lereng-lereng tebing yang banyak dijumpai di Ranah Minang yang memang banyak daerah perbukitannya.
Lereng tebing di rel sepanjanh Lembah Anai
Lereng tebing di rel sepanjang Lembah Anai
Sore harinya Otty Widasari memberitahu bahwa suaminya (Hafiz) ‘menemukan’ foto-foto Minang tempo dulu di situs jejaring sosial Facebook. Orang yang memiliki foto tersebut bernama Ronal Chandra. Kami pun dari akumassa minta izin kepada beliau untuk memuat foto-foto tersebut di www.akumassa.org dan permintaan izin tersebut disambutnya dengan baik.
Lembah Anai, sebelum ada jalur kereta api
Lembah Anai, sebelum ada jalur kereta api
Saya cukup terkesima ketika melihat foto-foto perkeretaapian di Sumatera Barat, terutama jalur Padang-Bukittinggi yang melewati Lembah Anai. Saya begitu menikmati keindahan panoramanya ketika terakhir kali melewati kawasan tersebut pada workshop akumassa Padangpanjang tahun lalu. Dengan menyaksikan air mancur yang besar, kita juga dapat melihat kera hutan yang jinak sepanjang Lembah Anai. Udaranya disana sangat sejuk, tak terbayang betapa lebih indahnya pemandangan hutan lindung beserta jalur kereta tersebut di awal peresmiannya di akhir tahun 1800-an dahulu.
Peresmian jalur kereta api Padang Panjang pertama kali, tahun 1895
Peresmian jalur kereta api Padangpanjang pertama kali, tahun 1895
Pembukaan jalur kereta api Padang Panjang, sekitar tahun 1895
Pembukaan jalur kereta api Padangpanjang, sekitar tahun 1895
Kebetulan, 21 Februari 2009 lalu, ketika workshop akumassa Padangpanjang saya berkesempatan untuk menghadiri peresmian kembali kereta Mak Uniang sebagai kereta wisata. Menariknya, jalur Mak Uniang ini juga melewati lubang kalam (terowongan) dan jembatan Lembah Anai yang dibangun Belanda untuk menembus perbukitan.
Stasiun Padangpanjang tahun 1880-1900
Stasiun Padangpanjang tahun 1880-1900
Lembah Anai (1885-1895)
Lembah Anai (1885-1895)
Terowongan Anai, tahun 1910
Terowongan Lembah Anai, tahun 1910
Topografi Lembah Anai menyebabkan kawasan ini sering terjadi longsor. Terlebih kawasan ini juga termasuk daerah rawan gempa seperti Sumatera pada umumnya. Orang-orang tua dahulu tidak akan lupa kenangan pahit pada 28 Juni 1926, di mana gempa sebesar 7,8 SR pernah melanda Padangpanjang dan sekitarnya. Menurut Riosadja, kawan saya asal Bukittinggi yang baru beberapa bulan merantau di Jakarta mengatakan bahwa saat itu sudah ada cerita turun-temurun yang beredar di masyarakat tentang dashyatnya gempa tersebut. Digambarkan setelah terjadi gempa, seluruh telur ayam menjadi tamalangan (tidak bisa menetas dan membusuk dalam cangkangnya).
Hancurnya Stasiun Padangpanjang setelah gempa tahun 1926
Hancurnya Stasiun Padangpanjang setelah gempa tahun 1926
Akibat gempa tahun 1926
Akibat gempa tahun 1926
Beberapa waktu yang lalu, tepatnya 16 April 2010 kawasan Lembah Anai dihantam longsor besar. Longsor tersebut menyebabkan jembatan di dekat Lembah Anai rusak berat sehingga jalur Padang-Bukittinggi terputus total. Menurut kawan saya yang tinggal di Padangpanjang, sebelumnya curah hujan memang cukup tinggi dan turun tanpa henti. Hal ini mengakibatkan volume air membesar dan meluluh lantakan jalanan yang mengitari bibir sungai di Lembah Anai ini.

Kerusakan Lembah Anai karena longsor dan banjir tahun 1900-1940
Kerusakan Lembah Anai karena longsor dan banjir tahun 1900-1940
Kerusakan Lembah Anai karena longsor dan banjir tahun 1900-1940

Lembah Anai merupakan jalur utama yang menghubungkan kota kawasan ‘atas’ (darek) seperti Payakumbuh, Bukittinggi, Batusangkar, Padangpanjang dan Solok dengan kota di kawasan ‘bawah’ (pasisia) seperti Pariaman, Lubukbasung, Padang dan Painan. Jalur ini juga merupakan jalur awal perekonomian di Sumatera Barat untuk mengangkut hasil pertanian dari kawasan ‘atas’ ke ‘bawah’ dan hasil laut dari kawasan ‘bawah’ ke ’atas’. Akan pentingnya jalur ini, maka Pemerintah Belanda membangun jalur kereta api sebagai sarana transportasi. Setelah didirikannya PT Semen Padang pada tahun 1910, kereta api juga digunakan untuk mengangkut batubara dari Ombilin ke Padang. Ada juga dua jalur besar lainnya yang menghubungkan ‘atas’ ke ‘bawah’ seperti Sitinjau Laut dari arah Solok dan Kelok 44 dari arah Bukittinggi, tapi dengan jarak dan waktu tempuh yang berbeda.
Jalur kereta arah Kayu Tanam sekitar tahun 1895
Jalur kereta arah Kayu Tanam sekitar tahun 1895
Pembangunan rel kereta Air Putih Payakumbuh tahun 1913
Pembangunan rel kereta Air Putih Payakumbuh tahun 1913
Stasiun Kereta Payakumbuh sekitar tahun 1900
Stasiun Kereta Payakumbuh sekitar tahun 1900

Foto-foto Lembah Anai tersebut kembali mengingatkan Riosadja akan jalur yang selalu dilaluinya bolak-balik Bukittinggi dan Padang saat kuliah di UNP (Universitas Negeri Padang). Jalur yang akrab dengan pengamen dan penjaja paragede jaguang (perkedel jagung) yang sigap melompat saat bus melambat di tikungan tajam dan jalanan menanjak. Jalur yang sejuk berkabut tempat beristirahat saat perjalanan; tempat berderet-deret rumah makan menyajikan masakan khasnya.  Dan saya pun hanya bisa berkata “Den takana jo kampuang”.

Jumat, Agustus 12, 2011 | 0 komentar |


Pengurus Serikat Pekerja Semen Padang (SPSP) Gelar Raker Perdana

Raker












 
Kepengurusan Serikat Pekerja Semen Padang (SPSP) periode 2011–2014, Kamis (11/8) melaksanakan rapat kerja (raker) pertamanya di Gedung Serba Guna Semen Padang.

Pada raker yang dipimpin langsung oleh Ketua Umum SPSP, Harmen A. Nashar tersebut mempresentasikan serta mendiskusikan program dari masing–masing bidang.

"Meskipun raker diadakan pada saat menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan, namun para peserta raker dengan antusias mengikuti pelaksanakan raker dengan motto “Perusahaan Maju, Karyawan Sejahtera”, ucap Ketua Umum SPSP, Harmen A. Nashar setelah selesainya acara tersebut.

Dalam sambutannya Harmen menegaskan, bahwa seluruh anggota SPSP harus meningkatkan profesionalitas dalam bekerja. Seluruh anggota SPSP harus mampu bekerja sebagai sebuah tim kerja yang solid. Sehingga tidak menimbulkan ketergantungan pada figur tertentu.

Selain itu katanya, setiap anggota SPSP di unit kerja diharapkan menerapkan prinsip “My Area” untuk meningkatkan keamanan peralatan dan kenyamanan dalam bekerja.

“Pengurus juga harus menemukan cara bagaimana untuk meningkatkan rasa kebanggaan karyawan dan membangun spirit karyawan sebagai anggota SPSP," tambah Harmen pria yang murah senyum ini.

Pada kesempatan ini, Ketua Umum SPSP juga mengucapkan selamat atas terpilihnya Tim Bipartait SPSP, sebagai yang terbaik di Sumatera Barat dan akan menerima penghargaan di Jakarta pada tanggal 15–17 Agustus 2011 ini.[]

source:padangekspres.co.id
Jumat, Agustus 12, 2011 | 0 komentar |


Sejarah Pengembangan Islam di Kubuang Tigobaleh oleh Syekh Imam Marajo

Ilustrasi

















Beberapa waktu lalu Padang Ekspres mempersembahkan rubrik religi sejarah pengembangan Islam di Solok pada ke 16-17 M oleh Syekh Angku Balinduang asal Nagari Talang, Kabupaten Solok,  dimasa kejayaannya beliau juga dikenal sebagai salah-satu orang keramat yang memiliki banyak keistimewaan.  Selain mengembangkan Islam, beliau mampu menghalau bala dengan berlari dan berkuda diatas padi, memiliki suara merdu saat mengumandangkan adzan.  Sejarah ini hingga sekarang melegenda secara turun-temurun ditengah-tengah masyarakat Talang, makam Angku Balinduang dianggap sebagai Tampat (makam) keramat.  

Kali ini kami mencoba mengajak anda mengintip sejarah religi di Nagari Gauang, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok.  tentang pengembaraan seorang mursyid Syekh Imam Marajo dalam mengembangkan Islam di luhak termuda Kubuang Tigobaleh (Solok Salayo, Guguak si Jawi-jawi, Gaung dan Panyakalan, Cupak dan Gantung Ciri, Sirukam, Supayang, Kinari, Muaro Paneh dan Sariek Alahan Tigo), Talang Talago Dadok, Sirukam Saok Laweh dan daerah lainnya. Pengembaraan yang cukup berliku, penuh tantangan dan hambatan.  Untuk mengembangkan Islam, Syekh Imam Marajo di setiap sudut perkampungan di Solok bangun Surau sebagai sarana ibadah, ia bisa terbang ke Aceh dan Mekkah dengan menggunakan tikar sholat. Memiliki banyak murid yang tersebar hingga ke berbagai pelosok, menganut tarekat Satariyah. 

Tokoh Ulama Nagari Gauang, Aditiawarman Dt. Kayo, mengatakan, riwayat Imam Marajo dulu pernah disepakati dalam sebuah pertemuan Ulama Sumatra Barat sekitar 42 tahun silam, lahir di Gauang Batu Tagak tahun 1490 dengan nama Marah Husin Bin Abdul Musahar. Selama belasan tahun merantau ke Pariaman, dan bersama Syekh Burhanuddin belajar agama ke Abdul Rauf di Aceh dan ke Mekkah.

Imam Marajo kembali ke Gauang sekitar tahun 1531, kebetulan saat beliau datang warga di daerahnya masih menganut animisme, menyembah roh-roh halus, mempercayai tempat-tempat sakti sebagai pemberi kekuatan. Kemana pergi selalu mengenakan jubah putih dan sorban, kopiah berwarna merah, dan membawa sebuah tongkat.  Awalnya banyak pertentangan muncul dari berbagai kalangan, terutama kaum adat yang menganggap aliran Imam Marajo dapat merusak tradisi para leluhur. Namun berkat sabar menghadapi segala hambatan dan rintangan, sembari perlahan-lahan memberikan pemahaman bahwa Islam itu agama yang sempurna, Imam Marajo akhirnya menjadi guru.

System pergerakan yang dilakukannya tak jauh berbeda dengan guru besar Syekh Burhanuddin, sehingga setelah berhasil menyebarkan Islam di Gauang, beliau pun mendirikan sebuah Surau, selanjutnya dijadikan Masjid Gauang. Menurut riwayat, tonggak ambacu (tiang utama) Masjid Gauang dahulunya hanya didirikan seorang diri oleh Imam Marajo dengan menggunakan sehelai akar kayu dari hutan, setelah tiga masyarakat nagari (Gauang, Panyakalan, Saok Laweh) menyatakan angkat tangan untuk melakukannya. Sampai sekarang tonggak tuo tersebut masih terlihat berdiri kokoh menyangga bangunan Masjid Gauang, dan menjadi saksi bisu atas sejarah Imam Marajo.

Menurut Aditiawarman Datuk Kayo, Imam Marajo memiliki tongkat yang pada sewaktu-waktu bila dihempaskan ke tanah dapat mengeluarkan air, hal ini dibuktikan dengan sumber mata air di sebuah kolam dekat Masjid Raya konon dahulunya terpancar dari tancapan tongkat beliau. Kala itu masyarakat kesulitan mencari air untuk berwuduk, lantas Imam Marajo menancapkan tongkatnya ke tanah, karena izin Allah SWT semuanya tak ada yang mustahil.

“Konon Imam Marajo pernah memelihara ikan laut jenis bada maco di kolamnya, sehingga masyarakat pun takjub. Pada sewaktu-waktu bada maco itu akan bisa saja kembali muncul di kolam beliau, dan fenomena itu dapat dilihat oleh siapa saja. Semua kesaktian dibuktikan Imam Marajo tak lain demi meningkatkan keimanan umat pada Allah SWT,  sesungguhnya bagi Allah SWT tak ada yang mustahil. Bukan untuk membanggakan diri bagi beliau,” Ujar Aditiawarman.  
 
Imam Marajo juga disebut-disebut  bisa terbang ke Mekah dengan sajadah, serta pernah berkelahi dengan harimau. Harimau itu kemudian dipukul dengan tongkat dan akhirnya menjadi manusia. Manusia jelmaan harimau itu kemudian diislamkan, dan menjadi murid beliau. Imam Marajo juga diyakini memiliki kekuatan lebih, sehingga mampu mengangkut kayu dalam jumlah besar dari hutan untuk material pembangun masjid di berbagai daerah. Sebagaimana Masjid Lubuk Sikarah Kota Solok sekarang, menurut sejarah proses pembangunannya tak terlepas berkat bantuan Imam Marajo.

Setelah mengembangkan Islam di Nagari Gauang dan sejumlah nagari tetangga lainnya, beliau juga akhirnya berhasil mengislamkan Kubung Tigo Baleh sekitar tahun 1545. Jumlah pengikutnya mencapai ribuan orang, diantaranya juga ada dari luar Solok seperti Sijunjung, Jambi, dan Riau. Pusat pengembangan Islam waktu itu bertempat di Nagari Gauang, berbagai kegiatan keagamaan pun kian semarak hampir diseluruh penjuru.  Seluruh surau dan Masjid aktif, di bulan-bulan besar islam dilaksanakan rutual keagamaan, sebagaimana di Minangkabau berfalsafah ‘adat basandi syara, syara basandi kitabllah’.

Khususnya Di hari maulid nabi Muhammad SAW, masyarakat menggelar tardisi mauluik dengan kitab barazanzi sembari diiringi rebana, rayo tampek (berziarah kubur) selama sepekan penuh pasca Hari Raya Idul Fitri yang diikuti seluruh warga, tolak bala dimalam hari dengan mengibarkan alam-alam (bendera putih bertuliskan tulisan arab), baratik dan berzikir, perkauran massal menjelang turun ke sawah, serta berbagai ritual lainnya.   

Imam Marajo memiliki sejumlah murid terkenal antara lain, Syeh Muchsin, Pakiah Majo Lelo. Syech Kukut dan lain sebagainya. Imam Marajo meninggal dunia dalam usia 200 tahun dan dimakamkan di Balai Tangah, Jorong Bansa, Nagari Gauang, Kecamatan Kubung Kabupaten Solok. Komplek pemakaman dipugar dengan bagonjong, persinya dibagian pusara dipasangkan kelambu dari kain putih sebagai simbol kesucian. Tiap-tiap setahun sekali, makam Syekh Imam Marajo dijadikan tempat Bersafa kecil sebelum bersafa besar ke Makam Syekh Burhanuddin di Ulakan Pariaman. Kegiatan Bersafa disemarakkan juga dengan selawat dulang, nyanyian arab diiringi musik rebana. Begitupun tempat berkaul bagi anak-cucu sekarang atas berbagai permohonan pada Allah SWT.

Walinagari Gauang, Adinar Pakiah Marajo menyebutkan, kemampuan Imam Marajo memang sulit diterima dengan logika, namun, riwayat itu dahulu sudah disepakati bersama para ulama. Basafa dilaksanakan sebagai bentuk penghargaan atas jasa Imam Marajo dalam mengembangkan agama Islam di Kabupaten Solok, sementara berkaul dijadikan tradisi sejak dahulunya. Tak heran bila agama sampai sekarang cukup kental di Gauang, begitupun adat dan istiadatnya, sebab di bumi Gauang tersimpan sejarah religi yang tak ternilai.
Jumat, Agustus 12, 2011 | 0 komentar |